Home » Edukasi » Kompleks Rumah Keluarga Bali
Kompleks Rumah Keluarga Bali

Kompleks Rumah Keluarga Bali

Rumah adat Bali terlihat masuk ke dalam. Tampak luar hanya tembok tinggi. Di dalamnya ada taman dan bangunan kecil atau bale terpisah untuk setiap kegiatan – satu untuk memasak, satu untuk mencuci dan toilet, dan bangunan terpisah untuk setiap kamar tidur. Dalam iklim tropis Bali yang ringan, orang-orang tinggal di luar, sehingga ruang tamu dan ruang makan akan menjadi area beranda terbuka, menghadap ke taman. Seluruh kompleks berorientasi pada poros kaja-kelod (menuju pegunungan – menuju laut).

Kompleks Rumah Keluarga Bali

Hubungan Rumah dan Tubuh Manusia

Serupa dengan tubuh manusia, kompleks rumah memiliki kepala (pura keluarga dengan pura leluhurnya), lengan (ruang tidur dan tempat tinggal), tungkai kaki dan kaki (dapur dan bangunan penyimpanan beras), dan bahkan anus (pembuangan sampah) atau kandang babi). Mungkin ada area di luar halaman rumah tempat pohon buah-buahan ditanam atau tempat babi disimpan.

Rumah adat Bali ditemukan di setiap wilayah pulau; Ubud tetap menjadi tempat yang sangat baik untuk melihatnya hanya karena di sana merupakan konsentrasi rumah-rumah tradisional Bali berada. Banyak dari rumah – rumah tersebut yang menerima pengunjung.

Tipikal Kompleks Rumah Keluarga

Penjelasan rumah adat Bali berikut membahas elemen yang biasa ditemukan dalam kompleks rumah keluarga. Meskipun ada variasi, desainnya sangat mirip, terutama mengingat element tersebut muncul ribuan kali di seluruh Bali.

  • Pura keluarga, Sanggah atau Merajan, yang selalu berada di sudut kaja-kangin (matahari terbit ke arah pegunungan) halaman. Akan ada tempat suci untuk ‘trinitas’ Hindu Brahma, Siwa dan Wisnu, dan untuk taksu (perantara ilahi).
  • Paviliun tidur atau Umah Meten untuk kepala keluarga.
  • Pura Tugu untuk dewa roh jahat di kompleks rumah tetapi di sudut jauh kaja-kuah (matahari terbenam ke arah pegunungan); dengan menggunakan roh jahat utama sebagai penjaga, yang lain akan menjauh.
  • Tugu Pengijeng di tengah ruang terbuka kompleks, didedikasikan untuk roh yang adalah penjaga properti.
  • Paviliun Tamu atau Bale Tiang Sanga, juga dikenal sebagai bale duah. Secara harfiah ruang keluarga, ruang itu digunakan sebagai tempat berkumpul, menyediakan tempat kerja atau tempat sementara anak-anak laki-laki yang lebih kecil dan keluarga mereka sebelum mereka membangun rumah mereka sendiri.
  • Halaman rumah atau Natah dengan pohon kamboja atau kembang sepatu, dengan selalu terdapat beberapa ekor ayam ditambah satu atau dua ayam jago dalam keranjang.
  • Paviliun bekerja dan tidur atau Bale Sakenam atau Bale Dangin; dapat digunakan untuk upacara keluarga yang penting.
  • Paviliun Tidur atau Bale Sakepat untuk anak-anak; sangat opsional.
  • Pawon atau Dapur; selalu di selatan, karena itu adalah arah yang terkait dengan Brahma, dewa api.
  • Lumbung Beras – domain dari biji-bijian yang berharga dan Dewi Sri, dewi padi. Posisinya ditinggikan untuk mencegah hama pemakan beras.
  • Aling Aling atau Dinding Sekat mengharuskan pengunjung untuk berbelok ke kiri atau kanan. Ini memastikan privasi dari orang yang lalu lalang dan perlindungan dari setan, yang diyakini orang Bali tidak bisa berbelok.
  • Gerbang dengan atap atau Candi Kurung, menyerupai gunung atau menara yang terbelah dua.

Tempat babi atau sampah Selalu di sudut kangin-kelod (matahari terbit ke arah yang jauh dari pegunungan), sisa-sisa sampah rumah berakhir di sini.